Merayakan warisan Budaya dan Alam Melalui gerakan literasi

Maros, 20 Juli 2025 –  Minggu pagi yang cerah, kawasan Car Free Day di Maros tampak berbeda dari biasanya. Sejak subuh, tim Bumi Toala Indonesia bersama Maros Read Aloud dan Perpustakaan Daerah Maros sudah mulai sibuk menyiapkan segala keperluan kegiatan. Mereka mengangkut instalasi pameran, menata deretan buku, dan menghadirkan mobil perpustakaan keliling dari Pemkab Maros ke area kegiatan. Semangat mereka adalah untuk menghadirkan sebuah pengalaman literasi yang unik dan bermakna bagi anak-anak Maros.

Kegiatan Maros Aloud kali ini terasa istimewa karena mengangkat tema warisan budaya dan alam. Di tengah area Car Free Day yang biasanya dipenuhi warga yang berolahraga, anak-anak dan masyarakat disuguhi pemandangan yang tak biasa: deretan lukisan dan foto reproduksi gambar prasejarah tertua di dunia, yang berasal dari situs-situs penting Maros-Pangkep seperti Leang Bulu Sipong 4, Leang Tedongnge, dan Leang Karampuang. Gambar cap tangan purba, babi kutil Sulawesi, dan motif-motif gua kuno menjadi magnet tersendiri, tidak hanya bagi peserta yang sengaja hadir untuk acara, tetapi juga bagi banyak orang yang sedang melintas dan akhirnya memutuskan untuk ikut singgah dan belajar.

 

Di tengah suasana yang penuh kehangatan, anak-anak duduk melingkar mengikuti sesi membaca nyaring buku “Petualangan Toala”. Mereka mendengarkan dengan antusias kisah petualangan Toala, yang mengajak mereka menyelami sejarah manusia prasejarah, mengenal profesi arkeolog, serta belajar tentang hewan endemik Sulawesi. Kehadiran pendamping dan orang tua yang turut serta dalam membaca bersama, turut membangun ikatan emosional yang erat sekaligus menghidupkan budaya literasi keluarga.

Usai membaca, anak-anak terlibat dalam aktivitas mewarnai motif purba dan binatang endemik. Di hadapan mereka terbentang lembar-lembar gambar hasil reproduksi artefak arkeologi dan motif-motif khas Sulawesi Selatan, yang kini bisa mereka warnai sesuai imajinasi masing-masing. Beberapa anak begitu antusias menanyakan kisah di balik setiap gambar, sementara yang lain takjub saat mendengar penjelasan tentang usia lukisan-lukisan gua yang mencapai puluhan ribu tahun.

Ketua Maros Read Aloud Ayu Astriandari menyampaikan apresiasinya, “Kolaborasi ini sangat luar biasa. Anak-anak mendapat pengalaman unik menyaksikan gambar prasejarah tertua di dunia sambil belajar sejarah, arkeologi, dan kekayaan alam Maros. Suasananya hangat dan menyenangkan!” Anak-anak jadi bisa punya wawasan baru terkait sejarah, tentang sejarah, profesi arkeolog, dan hewan endemik terkemas apik dan dipadukan dengan melihat langsung lukisan-lukisan prasejarah yang ada. Gabungan dari buku, baca nyaring dan pameran lukisan yang menjadi bukti konkret stimulasi visual lewat lukisan, membuat sebuah paduan pembelajaran yang bagus dan menarik untuk anak-anak. Sambung Ayu.

Hal senada di sampaikan oleh dr. Hj. Fitri adhicahya, S.ked., M. Kes. Selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Maros menambahkan, “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan minat baca anak dan masyarakat. Melalui literasi, pameran, dan perpustakaan keliling, kita bisa menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.”

Kerja sama dengan Bumi Toala sangat bermanfaat bagi perpustakaan daerah maros karena dapat membantu kami meningkatkan rasa penasaran anak-anak tentang dunia arkeologi, serta memberikan kontribusi pada pelestarian budaya lokal. Kami sangat menghargai kerja sama ini dan berharap bisa dapat terus bekerja sama. Sambungnya.

Sepanjang acara, suasana penuh inspirasi tercipta melalui dialog dan diskusi sederhana antara anak-anak, para pegiat literasi, dan tim Bumi Toala Indonesia. Pameran foto dan artefak arkeologi turut melengkapi pengalaman visual yang membuat sejarah terasa dekat dan hidup. Banyak orang tua dan pengunjung umum mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa Maros memiliki warisan budaya kelas dunia yang sangat membanggakan.

Kegiatan yang memanfaatkan ruang publik Car Free Day ini mendapatkan apresiasi sangat positif, baik dari peserta utama, masyarakat yang datang khusus, maupun mereka yang kebetulan melintas. Banyak anak dan orang tua yang mengaku baru memahami betapa luar biasanya kekayaan sejarah dan budaya Maros—dan bahkan tertarik untuk berkunjung langsung ke situs-situs arkeologi setelah melihat pameran dan mendengar penjelasan tim Bumi Toala.

Acara Maros Aloud yang berlangsung hingga pukul 10.00 WITA ini akhirnya menjadi ruang belajar bersama yang penuh kehangatan dan semangat kolaborasi. Tidak hanya menambah pengetahuan baru bagi anak-anak tentang sejarah dan kekayaan alam Sulawesi Selatan, kegiatan ini juga membangkitkan kebanggaan dan keingintahuan masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai warisan leluhur mereka sendiri. Di akhir kegiatan, komitmen untuk menghadirkan acara serupa secara berkelanjutan pun digaungkan, agar lebih banyak generasi muda Maros yang tumbuh dengan literasi, kecintaan budaya, dan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam dan sejarah.

Direktur Bumi Toala Indonesia, Fardi Ali menegaskan,“Karst Maros-Pangkep adalah warisan dunia yang sudah dikenal luas secara internasional. Namun, kebanggaan dan pengetahuan ini harus dirasakan juga oleh masyarakat lokal, terutama anak-anak. Inilah komitmen kami—menghidupkan literasi, budaya, dan sains lewat pengalaman nyata di ruang publik.” Inisiatif  yang terbangun melalui kerjasmaa denga read aloud dan  bumi toala ini, merupakan Langkah  nyata  mengartikulasikan kepedulian kita untuk  mencerdaskan generasi muda di mulai dari pehamanan yang baik tentang warisan  budaya dan alam. Untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada  Perpusatakaan daerah  dan komunitas  read aloud yang telah mendorong Kerjasama ini. Juga  apresiasi  kepada Yayasan Kalla melalui Lembaga amil Zakat hadji kalla yang telah memberikan dukungan untuk penyelenggaraan acara hari ini. Terang Fardi.

 

 

Berita & Artikel Lainnya

YBTI dan BPK Wilayah XXI Libatkan Pemangku Kepentingan Lintas Sektor untuk Kaji Dampak Rehabilitasi Cagar Budaya

Ternate, 19 Desember 2025 — Yayasan Bumi Toala Indonesia (YBTI) bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau Heritage Impact Assessment (HIA) Benteng Kalamata. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kajian yang bertujuan memastikan bahwa rencana rehabilitasi dan penataan kawasan Benteng Kalamata dilaksanakan secara terukur, bertanggung jawab, serta selaras dengan prinsip pelestarian cagar budaya. FGD diselenggarakan pada Jumat, 19 Desember 2025, bertempat di Ballroom Kayu Merah Waterboom, Kota Ternate, dan menjadi forum strategis untuk memvalidasi temuan sementara kajian sekaligus menyelaraskan pandangan antar pemangku kepentingan terkait potensi dampak fisik, visual, sosial, dan lingkungan dari rencana rehabilitasi Benteng Kalamata. Latar Belakang Pelaksanaan Kajian Benteng Kalamata merupakan salah satu cagar budaya penting di Kota Ternate yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan lanskap budaya yang tinggi. Keberadaannya di kawasan pesisir menjadikan benteng ini tidak hanya strategis secara historis, tetapi juga rentan terhadap berbagai ancaman, antara lain abrasi pantai, hempasan gelombang laut, dinamika hidrologi, serta tekanan aktivitas perkotaan dan pariwisata. Seiring dengan rencana rehabilitasi dan penataan kawasan, diperlukan Kajian Dampak Cagar Budaya sebagai instrumen untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi potensi dampak terhadap keaslian (authenticity), integritas struktur, dan nilai penting (Outstanding Value) Benteng Kalamata. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi yang kuat bagi pengambilan keputusan pelestarian. Proses Pelaksanaan hingga Tahap FGD Pelaksanaan KDCB Benteng Kalamata diawali dengan Kick Off Meeting pada 15 Desember 2025, yang mempertemukan tim kajian, tim perencana, serta para ahli lintas disiplin untuk menyamakan kerangka kerja, ruang lingkup kajian, dan isu-isu utama yang akan dianalisis. Tahapan berikutnya meliputi studi pustaka, survei lapangan, dokumentasi kondisi eksisting, pengukuran teknis, pengujian non-destruktif, serta wawancara dengan pemangku kepentingan lokal. FGD tanggal 19 Desember 2025 menjadi tahapan konsultasi publik yang krusial, di mana tim kajian memaparkan hasil sementara KDCB dan menerima masukan dari berbagai pihak untuk penyempurnaan analisis dan rekomendasi. Pemangku Kepentingan yang Terlibat FGD dihadiri oleh unsur pentahelix pelestarian, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan kunci, antara lain: Keterlibatan lintas sektor ini mencerminkan komitmen bersama untuk memastikan rehabilitasi Benteng Kalamata dilakukan secara kolaboratif dan berbasis kepakaran. Pokok-Pokok Pembahasan FGD Beberapa isu utama yang mengemuka dalam FGD meliputi: Temuan dan Rekomendasi Sementara Berdasarkan kajian awal dan masukan dari FGD, diperoleh beberapa temuan sementara, antara lain meningkatnya risiko abrasi pesisir, perlunya pengendalian intervensi desain agar tidak mengganggu nilai penting benteng, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Rekomendasi sementara yang dirumuskan mencakup penguatan basis data teknis, penegasan zonasi pelestarian, pengembangan desain pengamanan pesisir yang sensitif terhadap cagar budaya, serta integrasi strategi mitigasi bencana dan keselamatan pengunjung. Seluruh rekomendasi tersebut masih bersifat sementara dan akan diperdalam pada tahap penyusunan dokumen akhir KDCB. Tahapan Selanjutnya Pasca FGD, tim kajian akan melakukan pengolahan dan sintesis seluruh masukan, pendalaman analisis teknis dan sosial, serta penyusunan Rekomendasi Akhir Kajian Dampak Cagar Budaya Benteng Kalamata. Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan utama bagi pelaksanaan rehabilitasi dan penataan kawasan Benteng Kalamata agar tetap menjunjung tinggi prinsip pelestarian cagar budaya.

Read more >

TOALA.ID Berpartisipasi dalam Festival Literasi 2025

Maros, 29 November 2025 – Pemerintah Kabupaten Maros menggelar Festival Literasi Maros 2025 di Creative Centre Perpustakaan Daerah pada 17–19 November 2025. Festival ini menjadi ruang berkumpulnya para pegiat literasi, guru, komunitas, pelajar, dan masyarakat untuk merayakan budaya literasi melalui berbagai agenda seperti alomba mewarnai, gelar wicara literasi, pertunjukan seni, hingga peluncuran buku. Bupati Maros, Chaidir Syam, menyampaikan bahwa festival ini merupakan momentum penting untuk memperkuat ekosistem literasi di daerah. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya seremoni, tetapi wadah untuk menampilkan kreativitas dan karya literasi masyarakat Maros. Ia juga mengungkapkan capaian membanggakan Kabupaten Maros dalam indeks kegemaran membaca yang mencapai 90,94 persen, kategori sangat tinggi berdasarkan penilaian Perpustakaan Nasional RI. Capaian tersebut merupakan hasil dari berbagai gerakan literasi seperti program Bunda Baca, pojok baca desa, dan kegiatan komunitas yang terus digalakkan. Chaidir menegaskan bahwa pembangunan literasi merupakan fondasi utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Daerah yang kuat literasinya dinilai akan melahirkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Ia menambahkan bahwa transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial juga terus didorong, dan saat ini Maros telah memiliki 59 desa yang memiliki Taman Bacaan Masyarakat atau TPBS. Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros, Fitri Ade Cahya, menuturkan bahwa Festival Literasi Maros 2025 dirancang untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat dan menjadi ruang kolaboratif bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam pengembangan literasi. Dalam festival ini, Yayasan Bumi Toala turut andil besar, menghadirkan pameran yang menyuguhkan kekayaan warisan budaya prasejarah Maros–Pangkep. Selain menampilkan hasil eksperimen gambar cadas, Bumi Toala juga memamerkan foto-foto gambar tetua dunia seperti lukisan manusia dari Leang Karangpuang dan adegan berburu dari Leang Bulusipong, Pangkep, dan pemutaran video Jelajah Cagar Budayamelalui Virtual Reality yang selama ini menjadi rujukan penting dalam kajian seni prasejarah.  Kaitanya dengan Visi YBTI secara eksplisit menyebutkan “Terwujudnya kelestarian ekosistem dan kemajuan peradaban…”. Literasi, atau kemampuan membaca dan menulis, adalah fondasi utama dari kemajuan peradaban dan perkembangan intelektual masyarakat. dan Misi YBTI adalah memajukan peradaban melalui inisiatif berbasis komunitas, riset kolaboratif, dan pendidikan kontekstual.Festival Literasi biasanya menyelenggarakan lokakarya, diskusi, dan pameran. Ini adalah bentuk pendidikan non-formal dan kontekstual yang membantu masyarakat, terutama generasi muda, memahami isu-isu lokal (seperti konservasi ekosistem Karst Maros yang menjadi fokus YBTI) melalui medium literasi dan narasi lokal. Salah satu anggota Bumi Toala, Oga — mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin — menjelaskan bahwa gambar-gambar cadas tersebut dapat dipandang sebagai bentuk literasi pada zamannya. Menurutnya, jika dikaitkan dengan masa kini, gambar-gambar itu adalah “tulisan” masyarakat prasejarah yang merekam aktivitas, simbol, dan cara mereka memahami dunia. Selain pameran gambar cadas, Bumi Toala juga menghadirkan foto alat batu prasejarah, termasuk salah satu artefak ciri khas Maros, yaitu Maros Point, sebuah mata panah yang terbuat dari batu yang telah dikenal luas dalam kajian arkeologi sebagai salah satu inovasi teknologi nenek moyang di kawasan tersebut. Kehadiran koleksi ini tidak hanya memperkaya wawasan pengunjung, tetapi juga menegaskan bahwa literasi tidak selalu berbentuk tulisan, melainkan juga jejak pengetahuan yang diwariskan melalui simbol, alat, dan karya seni. Untuk memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung, Yayasan Bumi Toala Indonesia Juga menyediakan alat peraga eksperimen, memungkinkan pengunjung mencoba membuat gambar telapak tangan dengan teknik sembur, Vivi chaidir dan gemilang pangessa ketua DPRD Maros sempat mencoba eksperimen cap tangan dengan Teknik sembur meniru metode lukisan cadas purba yang telah digunakan ribuan tahun lalu. Festival Literasi Maros 2025 dengan demikian tidak hanya menjadi ajang promosi literasi modern, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang perjalanan panjang literasi manusia, dari masa prasejarah hingga era digital. Kegiatan ini mempertegas komitmen Kabupaten Maros dalam memperkuat budaya literasi, membangun kualitas sumber daya manusia, serta memperluas pemahaman masyarakat mengenai kekayaan pengetahuan dan budaya yang menjadi identitas daerah.

Read more >

Bumi Toala Indonesia Memulai Proyek Digitalisasi Fort Rotterdam

MAKASSAR – 7 November 2025. Yayasan Bumi Toala Indonesia secara resmi memulai Proyek Digitalisasi Warisan Budaya Benteng Rotterdam pada hari Kamis (6/11). Proyek ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Pengembangan Budaya Digital, Kemendikbudristek, dan Yayasan Bumi Toala Indonesia. Proyek ambisius yang akan berjalan selama 30 hari kerja ini bertujuan untuk menciptakan arsip digital presisi tinggi dan media edukasi modern dari salah satu ikon sejarah terpenting di Indonesia Timur. Pelaksanaan proyek didahului oleh Lokakarya Koordinasi Awal (Kick-Off Meeting) yang intensif pada hari Rabu (5/11). Pertemuan ini mempertemukan seluruh pemangku kepentingan utama, termasuk perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX, Museum dan Cagar Budaya (MCB) Wilayah Sulawesi & Maluku, Narasumber Ahli Arkeologi dan Sejarah, serta Tim Kerja (Pelaksana Proyek) dari Yayasan Bumi Toala. Menyelaraskan Visi Teknis dan Sejarah Lokakarya kick-off yang berlangsung sehari penuh tidak hanya membahas koordinasi teknis, seperti penetapan PIC lapangan dan alur izin akses harian. Lebih penting lagi, lokakarya ini menjadi sesi pendalaman materi untuk menyamakan frekuensi antara tim teknis (yang akan mengoperasikan laser scanner dan drone) dengan para ahli (yang akan mengisi narasi). Tim Kerja memaparkan metodologi hibrida (gabungan 3D Laser Scan dan Fotogrametri) yang akan digunakan, sementara para narasumber ahli membedah anatomi benteng. Narasumber Arkeologi menyoroti fakta-fakta menarik, seperti pemilihan lokasi Rotterdam oleh VOC karena stabilitas lanskap padasnya, jauh mengungguli Somba Opu. Juga dibahas transformasi dari Benteng Ujung Pandang (era Tunipallangga, 1545) yang awalnya diperkuat gundukan tanah dan kayu, hingga menjadi benteng batu berpola “Penyu” yang kemudian diadopsi dan dimodifikasi oleh VOC mulai tahun 1670-an. “Kami juga berdiskusi tentang temuan arkeologis seperti sistem instalasi pipa keramik kuno dan 7 sumur yang membuktikan ketersediaan air tawar di dalam benteng, persis seperti catatan VOC,” ungkap seorang perwakilan tim teknis. Fungsi Masa Lalu dan Pemanfaatan Masa Kini Salah satu arahan terpenting dalam lokakarya datang dari BPK Wil. XIX sebagai user utama. Disepakati bahwa output proyek ini tidak hanya menceritakan sejarah masa lalu, tetapi harus secara eksplisit menampilkan fungsi dan pemanfaatan benteng di masa kini. “Sesuai arahan BPK, kami ingin mengemas bagaimana media digital ini dapat memperlihatkan apresiasi publik terhadap benteng saat ini. Publikasi akan menyeimbangkan fungsi masa lalu dan fungsi masa kini, sehingga masyarakat teredukasi tentang bentuk-bentuk pemanfaatan yang bisa dilakukan di cagar budaya,” jelas Manajer Proyek. Hasil diskusi juga menyepakati bahwa narasi konten akan dimulai pada era VOC, saat nama “Fort Rotterdam” pertama kali diberikan, mengingat keterbatasan data visual akurat dari era Benteng Ujung Pandang. Salah satu target utama yang paling ditunggu publik adalah memprioritaskan eksposur digital pada bagian-bagian dalam ruangan yang saat ini tertutup untuk umum. Dalam 30 hari ke depan, tim akan bekerja intensif di lapangan untuk mengakuisisi data yang akan diolah menjadi Model 3D, Gambar Teknis 2D (DWG), Peta Tematik Drone, Video Walkthrough, dan Virtual Tour interaktif.

Read more >