Bumi Toala Indonesia Fasilitasi FGD TN Babul Bersama Kelompok Tani Hutan

MAROS, TOALA.ID – Yayasan Bumi Toala Indonesia memfasilitasi Focus Group Discussion (FGD) antara Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dan Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Bentenge. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, pada Kamis (6/11/2025) ini , bertujuan untuk memperkuat tata kelola kawasan konservasi sekaligus mengharmonisasi kebutuhan masyarakat.  

Mengawali sesi diskusi, Fardi selaku fasilitator dari Bumi Toala Indonesia mencoba meluaskan pemahaman terkait konservasi, ancaman perubahan iklim, serta berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi laju degradasi lingkungan.

“KTH yang dibentuk oleh taman nasional kemudian difasilitasi merupakan bagian dari agenda pemberdayaan. Ini bertujuan untuk mengharmonisasi kebutuhan masyarakat tanpa melupakan aspek pelestarian,” ujar Fardi dalam paparannya.  

Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Heri Wibowo, menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini penting untuk memperdalam pemahaman bersama terkait tata kelola kawasan konservasi. Agenda utama pertemuan ini berfokus pada penyempurnaan dan penyelesaian data wilayah terbangun di dalam zona tradisional dan zona khusus , yang bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat.  

Seperti yang diketahui, KTH Betara Bersatu yang telah eksis sejak 2019, berhasil mengembangkan komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa kopi. Berkat pendampingan intensif dari TN Babul dan dukungan berbagai pihak, warga kini memiliki kapasitas dan keterampilan untuk mengelola kopi sebagai komoditi unggulan Desa Bentenge.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Desa Bentenge berharap agar ada proses restrukturisasi kelompok sehingga dapat mengakomodir kebutuhan warga lain yang belum tergabung dalam kelompok.

Harapan ini disambut baik oleh Arif, Ketua KTH Betara Bersatu, yang kembali terpilih untuk periode selanjutnya. “Kami mengharapkan agar pihak Taman Nasional dapat terus mendukung para petani kopi di Bentenge khususnya,” katanya.

Di akhir acara, Kepala Balai TN Babul kembali menegaskan bahwa peran penting kelompok sangat dibutuhkan. “Peran kelompok ini agar masyarakat dapat terus mengembangkan usaha HHBK yang tetap berpedoman pada regulasi yang berlaku,” tutup Heri Wibowo.

Berita & Artikel Lainnya